Dendam yang Diwariskan, Permusuhan yang Dikondisikan

Pekan ke-25 Liga 1 2019 akan menjadi ajang pertemuan berikutnya bagi dua kesebelasan menengah ke bawah: tuan rumah, Persib Bandung, melawan tamunya, Persija Jakarta. Pertandingan antara kedua tim tersebut kerap mendapat berbagai label mewah dari media. Embel-embel mulai dari El Clasico hingga Derby Indonesia seringkali disematkan kepada pertandingan antar dua tim tersebut. 

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini giliran Persib yang harus menjamu Persija jauh dari kandangnya. Stadion Kapten I Wayan Dipta akan menjadi kandang bagi tim asal Bandung tersebut lantaran situasi keamanan di Jawa Barat yang dianggap tidak kondusif.

Persamaan dari tahun-tahun sebelumnya adalah laga ini tetap mendapat antisipasi dan persiapan khusus dari berbagai pihak. Ribuan personel keamanan bakal dikerahkan. Tidak berhenti sampai di situ, penjualan tiket bakal dibatasi, waktu sepak mula dimajukan, serta suporter tamu dilarang hadir, yang diikuti dengan penyisiran bandara, terminal, dan pelabuhan untuk meminimalisir kedatangannya.

Antisipasi tersebut tentunya tidak lepas dari rekam jejak pertandingan antar keduanya yang kerap memakan korban, baik materiil, non-materiil, hingga korban jiwa yang nama-namanya sudah tidak asing lagi karena hampir selalu menghiasi ruang publik setiap laga ini akan digelar. 

Mewariskan Dendam, Mengondisikan Permusuhan

Setiap rivalitas umumnya memiliki konteks cerita dan peristiwa yang menjadi asal muasal terciptanya konflik. Bisa jadi merupakan persaingan dua tim dengan gelar liga terbanyak, seperti Inter Milan melawan Juventus, gengsi antar wilayah, seperti Derby Della Lanterna antara Genoa melawan Sampdoria, hingga pertentangan ideologis, seperti Lazio yang ekstrem kanan melawan Livorno yang ekstrem kiri.

Jika dilihat, perseteruan Persija dan Persib nyaris berada di luar ketiga tipe tersebut. Secara gelar, Persija jauh di atas Persib. Jika tolak ukurnya adalah pencapaian kompetitif, yang pantas disebut sebagai rival dari Persija adalah Persebaya, PSM, atau PSMS. Begitu pula dengan ideologi, tidak ada perseteruan ideologis yang jelas di sini. Satu yang lebih mendekati hanyalah gengsi wilayah, antara Persija yang mewakili ibukota dengan Persib yang mewakili entitas kedaerahan atau etnis tertentu, yaitu Jawa Barat atau Sunda. Itupun sebetulnya tidak lagi relevan ketika kedua daerah tersebut menjadi wilayah metropolitan yang mobilitas penduduknya sangat tinggi. Lahir boleh saja di Bandung, tapi pekerjaan dan mayoritas aktivitas ada di Jakarta. Tidak sedikit bahkan wilayah di Jawa Barat yang lebih kental nuansa Persija-nya, yang ditandai dengan adanya koordinator wilayah (korwil) The Jakmania yang aktif di sana.

Dalam konteks rivalitas Persija dan Persib (atau lebih spesifik Jakmania vs Bobotoh), rivalitas cenderung dikonstruksikan oleh pihak-pihak tertentu. Dalam konstruksinya, setiap pihak memiliki klaim masing-masing atas kebenaran ceritanya. Hal tersebut yang membuat subjektivitas penilaian masing-masing pihak menjadi dominan dalam diskursus-diskursus mengenai rivalitas tersebut.

Dominannya subjektivitas tersebut membuat bentuk rivalitas antar keduanya sangat dipengaruhi oleh konstruksi-konstruksi pemikiran dari pihak-pihak yang pernah merasakan rivalitas tersebut. Bagaimana seorang Jakmania melihat Persib atau Bobotoh, akan dipengaruhi oleh konstruksi pemikiran yang ditanamkan kepadanya, begitu juga sebaliknya. Misalnya, cerita seperti temen gue pernah dipukulin sama Viking gara-gara pake baju Persija di Bandung akan mengonstruksikan imaji tentang adanya permusuhan tersebut. Konstruksi pemikiran tersebut akan memberikan dampak pada tindakan yang akan dilakukan, misalnya ganti memukuli orang berbaju Persib di Jakarta.

Turut serta dalam konstruksi tersebut adalah peran media. Sebagaimana yang disebutkan pada paragraf di atas, media kerap melabeli laga ini sebagai laga yang sarat gengsi. Hal tersebut sebenarnya sah-sah saja. Dalam tingkatan tertentu, branding media terhadap pertandingan dapat memengaruhi orang agar menonton pertandingan tersebut. Semakin banyak penonton tentu akan berdampak baik bagi pemasukan klub, baik dari tiket hingga sponsor yang antusias produknya dilihat banyak orang.

Yang menjadi masalah adalah ketika media memberi panggung pada pihak-pihak yang memberikan konstruksi destruktif pada perseteruan ini, dengan terus menghembuskan permusuhan-permusuhan di luar batas wajar yang tidak ada sangkut pautnya dengan sepakbola itu sendiri. Lebih parahnya lagi, apabila media itu sendiri yang menghembuskan permusuhan tersebut. Misalnya mengutip suatu pernyataan yang tidak lengkap, sehingga menimbulkan mispersepsi di kalangan suporter.

Dekonstruksi

Adanya konstruksi yang dominan terhadap perseteruan antara Persija dengan Persib memang mendominasi diskursus di ruang publik. Meski begitu, bukan berarti konstruksi alternatif tidak bisa ditawarkan.

Pada ulang tahun yang ketiga September lalu, Sepakbola Jakarta mengampanyekan logo baru yang diikuti dengan slogan “hate less, love more.” Kampanye tersebut secara langsung ingin mengajak agar para pendukung Persija lebih mengutamakan cinta kepada Persija dibanding kebencian terhadap klub lain.

Dalam konteks perseteruan Persija melawan Persib, kampanye tersebut merupakan upaya untuk menciptakan konstruksi alternatif terhadap cara pandang suporter dalam memahami bentuk rivalitas. Bahwa sekeras apapun perseteruan, alasan kita mendukung Persija adalah karena cinta, bukan kebencian terhadap Persib.

Lebih lanjut lagi, hal tersebut dapat mendekonstruksi pemikiran, bahwa rivalitas tidak harus identik dengan kekerasan, bahwa rivalitas tidak harus saling menghabisi satu sama lain, hingga lupa bahwa sehancur apapun rivalmu, yang dihitung sebagai poin adalah hasil kemenangan di lapangan.

Rivalitas tentu boleh-boleh saja, bahkan diperlukan. Adanya rivalitas dapat memberikan pemaknaan lebih bagi sebuah pertandingan. Kemenangan dapat menjadi kebahagiaan tak terkira, dan sebaliknya, kekalahan dapat menjadi kesedihan yang berlarut. 

Akan tetapi yang harus tetap diperhatikan bahwa pada akhirnya, pertandingan Persija melawan Persib adalah pertandingan sepakbola. Kemenangan atas Persib secara matematis bernilai sama dengan kemenangan atas PSM, Barito, PSIS, Kalteng, dan PSS, yaitu tiga poin. Melihat situasi Persija yang belum aman, tentu kemenangan merupakan target yang maksimal untuk keluar dari situasi sulit. Melihat tren peningkatan di dua laga terakhir, Persija memiliki peluang untuk pulang dari Bali membawa angka tiga.

Tulisan ini bukan bertujuan untuk menyudutkan atau menyalahkan pihak-pihak yang pernah merasakan dampak dari perseteruan tersebut, apalagi bagi korban dan para keluarganya. Tujuan dari ditulisnya artikel ini adalah untuk mengingatkan bahwa perseteruan dapat dilihat sebagai sesuatu yang sudah ada dari sononya, tetapi merupakan sesuatu yang dapat dikondisikan. Untuk itu, konstruksi mengenai rivalitas dapat pula dicari alternatifnya, atau bahkan di dekonstruksi, dari yang tadinya erat kaitannya dengan kekerasan menjadi perseteruan yang murni berada dalam bingkai olahraga yang kita cintai ini, yaitu sepakbola.

 

Share post :

Leave a Reply