Dendam Juara adalah Harapan

Dendam Juara, itulah kata yang banyak dikatakan teman-teman The Jakmania, baik secara langsung, lewat tulisan-tulisan di status media sosial masing-masing atau di kaos mereka saat berjumpa di stadion. Menukil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata dendam berarti berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan dan sebagainya); konotasi yang selalu negatif bukan kalau kita bicara tentang dendam? Tapi bukankah banyak juga dari kita yang selalu bertahan hidup dengan memelihara dendam?.
Persija bukanlah klub yang berdiri baru-baru ini dengan mengambil alih lisensi klub lain lalu merubah nama dan pindah homebase, tapi Persija adalah klub yang punya sejarah panjang dalam kancah Sepakbola Indonesia dan tentu punya kenangan manis tentang gelar liga dan identitas kebanggan.
Sejarah memang penting supaya kita dapat belajar dari masa lalu untuk keberlangsungan sekarang dan masa depan. Mengutip pada Manifesto Angkatan 45, yang ada di Surat Kepercayaan Gelanggang terbitan 1949 berbunyi “Kami tidak memberikan suatu kata-ikatan untuk kebudayaan Indonesia. Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingin melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan baru yang sehat”. Jaman selalu bergerak dan siapa yang tak bisa mengikuti perkembangannya hanya akan tergilas rodanya, memang Persija dengan gelar Liga sebanyak 10 kali menjadi klub terbanyak pengoleksi gelar. Dan juga meruppakan satu-satunya tim yang tidak pernah degradasi. Tapi jika kata-kata yang tertuang dalam Manifesto Angkatan 45 menjadi renungan untuk Persija sungguh relevan. Sudah 16 tahun sejak gelar liga terakhir yang diraih klub ibu kota dan setelah itu Persija seperti mati segan hidup pun tak mau. Tentu bukan maksud mengesampingkan setiap usaha keras pemain dan pelatih serta jajaran lainnya.
Harapan adalah sesuatu yang baik, mungkin yang terbaik, dan sesuatu yang baik tidak akan pernah mati begitulah surat yang ditulis Andy Dufresne (Tim Robbins) pada Red (Morgan Freeman) sahabatnya dalam salah satu scene film The Shawsank Redemption, Film keluaran tahun 1994. Harapan untuk juara jelas tertuang dalam Dendam Juara yang selalu diucapkan The Jakmania, karena itu bukanlah kata-kata yang asal comot lalu popouler. Sebenar nya bila dipikirkan baik-baik ini adalah titik jenuh yang muncul dari The Jakmania. Bukan jenuh mendukung Persija tapi jenuh menunggu untuk menyaksikan Persija meraih gelar juara pada sebuah kompetisi kasta tertinggi lagi dan dengan itu berarti baik pula untuk semua pihak (The Jakmania maupun Persija). Seperti kejayaan yang tak cuma dilap-lap hingga mengkilat tapi sejarah adalah acuan untuk kita menjalani kehidupan yang baru. Bangkitlah PERSIJA.

Dikirim oleh Ruly Riantiarno
Bisa ditemui di twitter dengan akun @Ruly18_

Share post :

Leave a Reply