De Porras sebagai Cermin Keberhasilan Pemain Asing di Persija

Walau hanya setahun berseragam Persija Jakarta, Emanuel De Porras memberi kontribusi untuk tim Ibukota khususnya dalam urusan meningkatkan produktivitas gol Persija dan menaikan pamor Persija sebagai tim papan atas di Liga Indonesia

sepakbolajakarta.com – Melihat beberapa musim ke belakang, Persija Jakarta seakan kesulitan mencari sosok penyerang asing yang berkualitas. Seleksi demi seleksi tim ini lakukan demi menemukan sosok pemain asing mumpuni untuk menajamkan lini depan Persija, hampir belasan pemain asing berposisi striker di seleksi Persija. Hasilnya tetap saja nihil, seperti musim kemarin.

Untuk mengarungi turnamen Torabika Soccer Championship 2016 misalnya, Persija beberapa kali melakukan trial pada pemain asing yang berposisi striker tapi Persija tetap saja tak bisa menemukan pemain kualitas terbaik untuk pos ini. Tahun lalu ada nama Rodrigo Tosi (Brasil) dan Jose Guerra (Kolombia). Nasibnya berkarir di Persija sebentar, hingga pada akhir musim nama Tosi dicoret Persija dan Guerra yang kembali ke Kolombia karena cidera setelah laga ujicoba di saat turnamen itu baru saja dimulai.

Lagi-lagi, Persija hanya bisa kembali menarik nama pemain lama seperti Emmanuel Pacho Kenmogne dan Greg Nwokolo. Trial dan seleksi yang lama di lakukan tak membuahkan hasil yang bisa dipetik untuk Persija. Mungkin, Persija bisa di ibaratkan sebagai seorang kekasih yang gagal move on pada pasangan lamanya, dan sulit menemukan pasangan yang baru untuk sekarang.

Berbicara mengenai kualitas penyerang asing di Persija, ternyata Persija tak melulu gagal dalam mendatangkan pemain asing berlabel bintang di tahun-tahun sebelumnya. Persija pernah memiliki pemain asing berkualitas di posisi striker bahkan pemain ini bisa dikatakan sebagai pemain asing terbaik dalam catatan perekrutan sejarah Persija, pemain asing tersebut bernama Emanuel De Porras.

Saat itu Emanuel De Porras menjadi pemain asing yang menjadi sorotan di negeri ini, bergabung ke Persija Jakarta di akhir tahun 2003 dari klub Argentina, Ferro Caril Oeste. Nama De Porras sontak menjadi perhatian sepak bola tanah air. Bahkan jika menurut Bung Ferry (Ketua Umum The Jakmania saat ini), pemain berkebangsaan Argentina ini begitu menyita perhatian publik sepak bola Indonesia pada waktu itu.

“Dulu kita punya pemain namanya De Porras. Semua anak The Jak heboh banget dulu saat dia baru gabung ke Persija. Bahkan kayanya bukan cuma anak The Jak aja kali yang kayanya heboh, Sepak bola kita (Indonesia) juga ikutan heboh. Sana-sini ngomongin De Porras, fenomenal banget pemain ini buat Persija”. Kenang Bung Ferry saat hadirnya De Porras ke Persija.

DE PORRAS SEBAGAI MESIN GOL PERSIJA MUSIM 2003/2004

Tahun 2003, menjadi musim yang kurang mengenak-kan bagi Persija Jakarta sebagai tim yang baru saja mengunci gelar juara yang ke sepuluh kali di dua musim sebelumnya. Ternyata tim ibukota negara ini harus puas berada di posisi ke tujuh dalam klasemen Liga Indonesia Bank Mandiri 2003 (Ligina IX). Saat itu, Persija seakan tak mampu mempertahankan pialanya sebagai juara bertahan bahkan di tahun itu Persija tidak bisa bertahan sebagai tim penghuni papan atas. Padahal pada musim sebelumnya, tahun 2002. Persija berhasil menempatkan diri pada klasemen akhir di urutan ketiga yang membawa tim ini berlanjut ke kualifikasi grup 8 besar, sebelum akhirnya Persija tidak lolos dari fase grup untuk menuju semi final.

Tidak dapat mempertahankan gelar juara dan susahnya menghuni klasemen papan atas, membuat Pembina Persija Jakarta saat itu yakni Sutiyoso mulai gerah dengan situasi tersebut dan langsung melakukan pembenahan di Persija. Dengan dana APBD yang begitu besar, Persija berhasil mendaratkan 3 pemain asal Argentina ke Jakarta. Mereka adalah Gustav Hernan Ortiz, Gustavo Chena dan Emanuel De Porras. Bergabungnya 3 pemain yang berasal dari negeri tango tersebut disambut rasa antusias yang begitu tinggi oleh The Jakmania.

Saat itu, Persija menggelar hajatan turnamen Piala Emas Bang Yos jilid pertama tahun 2003 (PEBY I). Turnamen itu di ikuti oleh 8 tim besar di Indonesia yakni Persita Tangerang, PSMS Medan, PSIS Semarang, Persebaya Surabaya, PSM Ujung Pandang, Semen Padang, Persik Kediri dan Persija Jakarta. Persija tergabung bersama PSMS Medan, Persita Tangerang dan PSIS Semarang di dalam grup A Piala Emas Bang Yos.

Persija melakoni laga pembuka Piala Emas Bang Yos I dengan menghadapi PSIS Semarang di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 6 Desember 2003. Persija langsung menurunkan beberapa pemain baru, salah satunya adalah Emanuel De Porras. Di sini, De Porras mulai memikat hati The Jakmania. Waktu itu Persija berhasil menakluk-kan Laskar Mahesa Jenar (Julukan PSIS Semarang) dengan skor 3-2. Gol Persija Jakarta saat itu dicetak oleh Ellie Aiboy dengan dua golnya. Lalu satu gol lagi milik Persija berikutnya, dicetak oleh De Porras. Ini menjadikan gol pertama dirinya dalam laga debut bersama Persija Jakarta.

Di laga berikutnya, De Porras langsung bermain cukup baik di di turnamen PEBY I ini bersama Persija. Dari empat pertandingan Persija Jakarta di Piala Emas Bang Yos I, De Porras berhasil menyumbang dua gol sekaligus membawa Persija Jakarta menjadi juara di tahun pertama terselenggaranya Piala Emas Bang Yos setelah mampu mengalahkan Persebaya Surabaya dalam babak adu penalti dengan skor 4-2 di final.

Tak berhenti sampai raihan Piala Emas Bang Yos, De Porras kembali menunjukan kualitasnya sebagai pemain yang memang pantas dihargai dengan dana yang besar. Tahun 2004, De Porras memperkuat Persija Jakarta di ajang Liga Indonesia Bank Mandiri X. Pada Laga perdana kompetisi ini, De Porras berhasil mencatatkan namanya di papan skor Stadion Utama Gelora Bung Karno setelah berhasil mencetak gol ke gawang Persita Tangerang lewat tendangan saltonya dan skor pertandingan di pembuka Ligina X tersebut berakhir imbang 2-2.

Pemain bernomor punggung 9 ini memang spesial, kedua kakinya sama baik mulai dari akurasi dan kekuatan tendangan, tak jarang ia juga mencetak gol dengan sundulan kepalanya. Ia juga mempunyai kecepatan dan olah dribble bola yang sangat baik. Jika bola sudah dalam giringan De Porras dan ia berada di kotak penalti lawan. Hampir dipastikan, 95% bola di kaki De Porras akan menghasilkan gol untuk Persija.

Tahun 2004 misalnya ketika Persija Jakarta menjamu Deltras Sidoarjo dalam lanjutan pekan ke-21 Ligina X di stadion Lebak Bulus dengan catatan kemenangan untuk Persija, 5-0. Di pertandingan itu, De Porras berhasil mencetak quatrick pertamanya untuk Persija Jakarta dengan jarak menit gol yang cukup berdekatan yakni menit 48, 54, 55 dan 67 sementara satu gol lainnya dicetak oleh Hernan Ortiz.

Dalam 10 pertandingan awal Persija di Ligina X, nama tercatat De Porras berhasil mencetak 6 gol untuk tim Macan Kemayoran. Di Ligina X tahun 2004 pula, De Porras berhasil masuk 5 besar jajaran top score dengan torehan 16 gol dibawah Aliyudin (Persikota), Joe Nagbe (PSPS Pekanbaru), Camara Fode (PKT Bontang) dan top score utama Ligina X yakni Ilham Jaya Kesuma dari Persita.

Dengan masuknya De Porras dalam jajaran top score Ligina X, otomatis mendongkrak Persija Jakarta kembali menempati klasemen papan atas. Musim 2003, Persija hanya mampu menempati peringkat ke tujuh. Sedangkan di musim 2004, Persija naik ke peringkat ketiga dengan koleksi 60 poin, hanya beda satu poin dari juara Ligina X tahun 2004, Persebaya Surabaya.

HENGKANG SAAT MASIH DICINTAI

Hanya satu musim membela Persija Jakarta dari akhir tahun 2003 hingga tahun 2004 akhir, perjalanan karir De Porras harus terhenti jelang awal tahun 2005. Ada beragam versi mengenai pindahnya Emmanuel De Porras dari Persija Jakarta, ia hengkang dari Persija lalu memperkuat PSIS Semarang bersama koleganya yakni Hernan Ortiz. Sementara si Gustavo Chena kembali pulang kampung ke Argentina sebelum Chena kembali lagi ke Indonesia.

Versi cerita pertama penyebab hengkangnya De Porras dari Persija adalah masalah negosiasi gaji si pemain itu sendiri. IGK Manila, pria brewok tebal yang saat itu menjabat sebagai manajer Persija dari tahun 2003 hingga 2007 mengungkapkan, bahwa De Porras waktu itu meminta bayaran yang cukup tinggi sebagai syarat mutlak jika ia masih dibutuhkan bersama Persija, berkali lipat gajinya dari pemain Persija yang lain. Sehingga manajemen menimbang permintaan De Porras. Jika dituruti, manajemen takut nantinya ada kecemburuan sosial di antara pemain. Negosiasi yang tak bertemu kata sepakat, akhirnya membuat De Porras pergi ke Semarang untuk membela PSIS.

“Saya sudah merayu-rayu dia (De Porras), bahkan melebihi rayuan saya kepada istri. Tapi keputusan-kan tidak bisa saya ambil sendiri. Lagipula masih ada rasio-rasio yang mesti dipertimbangkan.” Ujar pernyataan IGK Manila di bulan Januari tahun 2005 di kutip dari DetikSport.

Ada lagi cerita yang menyebutkan jika kepindahan De Porras bersama dua teman Argentina-nya karena adanya konflik pelatih Persija Jakarta saat itu yang juga sama berasal dari Argentina yakni Carlos Maria Garcia Cambon memiliki masalah internal terhadap pemain dan manajemen Persija. Sehingga Pembina Persija, Sutiyoso. Memecat sang pelatih dan juga mengosongkan pemain bernegara Argentina dari tim Persija.

The Jakmania saat itu sedang memuja De Porras yang popularitasnya sedang di atas daun karena baru satu musim bergabung ia sudah menjadi top score di tim Persija. Bahkan kepindahan De Porras ke tim lain, membuat The Jakmania kecewa dan bereaksi dengan melakukan demo ke manajemen Persija agar De Porras bisa segera kembali memperkuat Persija.

Karena desakan Jakmania yang begitu tinggi mengharapkan De Porras berseragam Persija lagi, Persija coba kembali mendatangkan De Porras kembali di tahun 2006. Bahkan kabar yang terdengar di media tahun itu, Persija menyiapkan dana sebesar 1,2 miliar sebagai tawaran gaji seorang De Porras yang sedang bermain di Ferro Carril Oeste (Argentina). De Porras memang saat itu sedang diburu tanda tangannya oleh tim Indonesia lainnya seperti Persmin Minahasa, Persik Kediri dan Persija. Sayangnya, De Porras lebih memilih melanjutkan berkarir di tanah kelahirannya bersama tim Benevento Calcio di tahun berikutnya.

Walau hanya setahun membela Persija Jakarta, De Porras berhasil menunjuk-kan tajinya sebagai pemain asing yang memiliki kualitas terbaik yang pernah dimiliki Persija. Ini tentunya harus menjadi pelajaran bagi Persija Jakarta di masa sekarang untuk tak segan belajar dari masa lalu, setidaknya mereka yang duduk di manajemen atau kepelatihan sekarang bisa lebih teliti lagi dalam memilih pemain asing yang memang benar-benar berpotensi menghasilkan prestasi untuk tim ini  di kemudian hari.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
190 views

Leave a Reply