Cinta yang Benar Antara Kita

Oleh: A’ty Faizatil Husna (@faizaty20),

Bagaimana cinta yang sebenarnya?

Pertanyaan itu selalu terlintas saat hari pertandingan Persija Jakarta tiba. Melihat mereka-The Jakmania-bisa berdampingan langsung dengan kebanggaan selalu timbul rasa iri. Mereka bersorak sesuka hati, sedang aku harus gigit jari.

Cukup mimpi sederhana. Aku bisa bergabung dengan kalian dan tak merisaukan halangan. Mendukung Persija Jakarta tanpa penghalang layar kaca. Menyanyikan chant-chant penyemangat sepanjang pertandingan, sembilan puluh menit penuh hingga suara serak selepasnya. Bersuka cita bersama jika berhasil membawa pulang tiga poin, atau sama-sama menegakkan kepala jika Sang Macan mengecewakan kita. Dan kembali lagi dengan semangat baru karena kita tak akan pernah tega membiarkan kesayangan berjuang sendirian. Sesederhana itu memang. Entah kenapa sulit sekali tuk diwujudkan.

Aku yang hanya berasal dari kota kecil di pesisir selatan, dan berjarak ratusan kilometer dari ibu kota, tempat kebanggaan berada. Bukan, bukan itu sebab yang sebenarnya. Tapi, restu orang tua sulit mengalir dengan berbagai alasan. Tak rela anak gadis satu-satunya terluka karena tak ada yang menjaga. Entah dengan cara apa menumbuhkan percaya pada beliau berdua, kalau sepakbola tak semua tentang keburukan dan kerusuhan. Bahwa ada sisi lain yang sangat mempesona jika kita menggunakan cara yang benar untuk mendukungnya.

Persija Jakarta yang bertandang ke kandang Arema FC tanggal 24 September 2017 akan menjadi hari yang bahagia jika aku bisa mewujudkan mimpi sederhana. Stadion Kanjuruhan Malang yang berjarak 132,7 kilometer dari tempatku sekarang berada harusnya menjadi sebuah ‘diskon istimewa’ untuk jarak 720,2 kilometer ke ibu kota. Tapi lagi dan lagi. Bukan jarak yang menghalangi. Betul memang, cinta tidak akan sempurna jika tiada restu  yang menyertainya.

Ku putar otak agar tak terjebak dengan bayang-bayang ‘cinta palsu’. Tepatnya, tanggal 10 Februari 2018 sebagai awal sedikit keluar dari sangkar. Bukan datang ke stadion memang. Hanya nonton bersama di salah satu café yang ada di kota.

Semifinal putaran pertama Piala Presiden 2018 yang mempertemukan Persija Jakarta dengan PSMS Medan di Stadion Manahan Solo tersebut menjadi saksi, bagaimana aku memenangkan negosiasi yang berujung aksi pendiaman dari orang tua di hari berikutnya. Tak apa, asal malam itu Macan Kemayoran berpesta 4-1 dan aku bertemu orang-orang dengan kebanggaan yang sama.

Setelah beberapa kali berkumpul dan berdiskusi, tiga bulan kemudian aku dan kawan-kawan berhasil mendirikan sebuah wadah bagi kami-para pecinta Persija Jakarta- di kota pesisir ini.

Kami yang berada jauh dari ibu kota selalu  berusaha menjaga wadah ini tetap hidup agar kecintaan kami tetap pada jalur yang benar. Cinta yang saling menguntungkan antara The Jakmania dan Persija Jakarta, bukan cinta yang merugikan. Menyebarkan virus-virus orens di ujung selatan dengan selalu menanamkan perdamaian tanpa ada kekerasan.

Tidak puas sampai tahap tersebut. Masih banyak bentuk dukungan untuk kebanggaan meski jarak membentang.

Lalu Persija, sayangku, ingin ku ajukan pertanyaan padamu. Ini dari aku yang tak membeli tiketmu, tapi selalu mencuri waktu untuk tetap bisa menyaksikan pertandinganmu. Aku yang tak bernyanyi dua kali empat puluh lima menit, tapi do’aku selalu mengalir  lebih dari itu. Aku yang entah sampai kapan hanya bisa memendam impian.

Tolong jawab aku. Sama atau bedakah cinta ‘seorang supporter layar kaca’ dengan mereka yang tak pernah absen datang ke tribun? Lebih setia siapakah di antara kita berdua? Bisakah kita duduk berdampingan tanpa merisaukan hal tersebut?

Sekali saja. Aku ingin ini menjadi bukti cintaku pada Persija Jakarta meski tak seberapa.

 

Foto: pjfc_banners di Twitter

Share post :
35 views

Leave a Reply