Cerita Fiksi (edisi 2): Untukmu Persijaku

Di perjalanan, seisi kota terlihat cerah dengan ramainya The Jakmania, dari tua, hingga muda, terlihat tangguh menggunakan atribut kebanggaannya. Sebuah pemandangan indah, ketika masyarakat Jakarta di persatukan untuk mendukung sebuah klub bernama Persija. Suasana kota saat itu pun sangat terasa meriah, dentuman drum para supporter seakan menyelimuti seisi kota.

Hingga akhirnya akupun sampai di kawasan stadion. Rasa kagum dan bangga menyelimuti jiwa ini. Dengan percaya diri, aku berjalan menuju pintu masuk stadion, membawa harapan indah bahwa hari ini Persija bisa memenangkan pertandingan.

Disini aku merasa tak sendirian, semua orang mendadak akrab dengan satu Tujuan, apa lagi kalau bukan mendukung sang Pahlawan. Tiket lecak di genggamanku seakan mengajak berlari menghampiri tribun stadion. Rasa sabar sudah tak tertahankan lagi, dan akhirnya aku sampai di depan pintu masuk stadion, Pemandangan yang amat indah ketika para supporter mengantri dengan tertib dan rapih, seakan-akan menanti untuk mendapatkan kebahagiaan yang di impi-impikan.

Dentuman drum kembali menggema di telingaku, nyanyian para Jakmania pun seperti alunan musik yang membangkitkan semangat di jiwaku. Dan sampailah aku di penghujung perjuangan, ada batas-batas yang terpaksa dilampaui, ada hal-hal tersayang yang terpaksa di relakan pergi, ada pula hal yang dipertaruhkan dengan harga mati. Tapi, itu semua tak terasa berat lagi, jika kami berhasil melihat dan mengawal kalian bertarung di lapangan, apalagi jika sang Macan berhasil meraih hal indah yang di sebut Kemenangan. semua rasa sakit, rindu, lelah, tak kurasakan lagi, ketika aku menjajakan kaki di tribun stadion.

Di sudut lapangan, terlihat para punggawa Macan Kemayoran yang tengah berlatih dengan semangat yang sama denganku. Dan sejauh mataku memandang, terlihat lautan Jakmania yang tengah bernyanyi untuk menyemangati para Punggawa. Tak pikir panjang lagi, aku langsung bergabung dengan kerumunan Jakmania yang lain, dan ikut bernyanyi dengan lantang.

Dan akhirnya yang kami tunggu-tunggu pun datang, Peluit Kick Off dibunyikan!. Awal permainan, Lini depan Persija terlihat kompak, belum lama sejak pertandingan di mulai, macan kemayoran telah meluncurkan serangan-serangan tajam yang membuat seisi stadion berteriak.

Bambang Pamungkas sang kapten terlihat Garang hari ini, bermain dengan indah sambil sesekali memberikan arahan kepada para rekannya. Menit demi menit berlalu, Serangan bertubi-tubi dari Persija, seakan memberikan  Debaran kencang di Jantung ini. “Serangan tajam”, namun belum juga berbuah manis, hingga babak pertama berakhir.

Peluit tanda dimulainya babak kedua pun dibunyikan, Nyanyian dari para supporter terdengar semakin keras, seaakan mendongkrak semangat para punggawa di lapangan. Tetapi permainan Persija malah terlihat menurun, dibanding babak pertama tadi para pemain juga terlihat lelah.

Hingga, Ditengah-tengah kegembiraanku, sesuatu yang sangat tidak di inginkan terjadi, setelah sang eksekutor ‘Bang Haji’ Ismed sofyan mengeksekusi sepak pojok, bola malah mendarat di kaki pemain lawan, dan sang lawan berhasil meluncurkan serangan balik yang mungkin, tak pernah aku sangka. Dengan cepat, Maman Abdurrahman berlari untuk kembali menjaga benteng pertahanan Persija, namun tak cukup cepat, karena sang lawan telah berhasil menembakkan si bundar, tepat mengarah ke sisi kanan atas gawang Macan Kemayoran, Sang Kiper Andritany, berusaha menangkapnya, Namun lompatan nya masih kalah cepat dengan laju si Bundar, dan akhirnya, Gol pun tercipta tepat di menit 90. Seketika seisi stadion pun sunyi, wajah-wajah yang tadinya bahagia, kini menampakkan Kekecewaan dan Ketidak percayaan hingga air mata mulai mengalir perlahan. Sang penjaga gawang langsung memunculkan teriakan dan wajah kesal saat memarahi penjaga benteng belakang. Semangatku yang awalnya bergejolak, kini membuyar entah kemana. “Mengapa GOL nya tepat di penghabisan waktu?” tanyaku, entah pada siapa. Papan hitam mulai unjuk diri dengan angka 00:02 di wajahnya, pertanda, hanya ada dua menit waktu tambahan untuk setidaknya menyamakan kedudukan, papan skor di atas kepalaku seakan menjadi saksi bisu atas kekecewaan ini.

Suara nyanyian Jakmania mulai terdengar kembali, pasca kesunyian tadi. Nyanyian yang berbunyi “Ayo Macan!.. Kemayoran!.. Pantang Mundur!.. Pantang Mundur!..” Seakan merapihkan kembali semangat-semangatku yang membuyar tadi. masa bodoh dengan skor akhir, apa salahnya berharap, meskipun terdengar tidak mungkin.

Para pemain terlihat tergesa-gesa, berkejaran dengan waktu demi tercipta nya sebuah Gol. Bepe dan Greg terlihat memainkan umpan satu dua, lalu, Bang Haji Ismed menyusul untuk memantulkan bola, bola di oper oleh bepe kepada Ismed, Ismed melambungkan bola kepada Greg, Greg menyundul dengan keras, Bola pun melaju dengan deras, namun, hanya menggebrak sisi samping gawang, dan serangan tadi hanya menjadi obat sementara yang tak membuahkan hasil manis.

Suara peluit pun berbunyi panjang sebanyak tiga kali, dan Pertandingan pun harus berakhir dengan skor 1-0. Para pemain terlihat membaringkan diri di lapangan, menampakkan ekspresi penyesalan, sekaligus mengalirkan kesedihan.

Suasana yang sebelumnya menggemakan euforia kegembiraan, kini beralih menjadi kesunyian yang gelap. Namun ada hal menarik dibalik kesunyian sore ini, setelah prosesi kesedihan di lapangan mereda, para pemain menghampiri kami yang masih terpaku di Bangku tribun.

Terlihat para pemain mengangkat kedua telapak tangannya seraya di rapatkan, seakan meminta maaf pada kami. Hingga Nyanyian Supporter pun kembali terdengar, “Terima Kasih,.. Persijaku,.. Terima Kasih,.. Persijaku, Dari kami,.. The Jakmania..” . Di lapangan, terlihat ada seorang Pemain yang juga menyapa, namun, masih dengan air mata di wajahnya, sambil mengusap-usap dan berusaha menghapusnya.

Disini aku langsung merasakan bahwa kami, Pendukung dan Punggawa, memiliki hubungan yang Luar biasa, yang bahkan bisa saling menghadirkan emosi dengan cepatnya, ketika dalam sekejap kesedihan dapat berubah menjadi kebahagiaan, dan begitu juga sebaliknya.

“Kami satu Jiwa.., Kami Satu Cita.., Kami Satu Cinta.., Persija…”. hari ini aku benar benar memahami makna dari nyanyian Sakral di atas, bukan lah sekedar nyanyian, melainkan sebuah ungkapan bahwa Kami semua memanglah satu jiwa, satu cita, dan satu cinta, Persija.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
182 views

Leave a Reply