Buana Putri Hingga Persija Putri

Bergulirnya Liga 1 Putri 2019 turut melahirkan simbol kekuatan baru sepakbola Jakarta. Persija Putri kini hadir mendampingi tim putra yang selama ini berjalan sendiri menjadi representasi sepakbola ibu kota. Dengan kehadirannya yang fenomenal dipenuhi pemain bintang level nasional, Persija Putri menjadi ancaman sekaligus membawa harapan akan kejayaan di kancah sepakbola wanita.

Tidak berlebihan bila Persija Putri diharapkan meraih prestasi di liga sepakbola wanita yang kembali hadir di negeri ini. Nama-nama seperti Zahra Musdalifah, Mayang ZP, Sri Devi, hingga Carla Bio menjadi jaminan kekuatan. Diharapkan mereka mampu kembali menghadirkan kejayaan seperti pendahulunya, Buana Putri.

Bila menarik lini waktu lebih jauh, Persija Putri memang bukan yang pertama menjadi gambaran kekuatan sepakbola wanita Jakarta. Kita pernah punya Buana Putri di era awal sepakbola wanita. Prestasi klub yang didirikan pemilik Koran Buana tersebut juga telah tercatat sejarah.

Mulai dari Piala Kartini, Piala Gubernur DKI, Piala Pangdam, hingga Invitasi Galanita dijuarai. Bukan hanya level nasional, Buana Putri sering kali menjadi wakil Indonesia di kancah internasional. Dengan prestasinya, Buana Putri bahkan mendapat julukan Ratu Sepakbola Indonesia.

Sama dengan Persija Putri kini, kala itu Buana Putri dipenuhi bintang-bintang bahkan bisa dikatakan kumpulan pesepakbola wanita terbaik di Indonesia.

Lahir sebagai pesaing klub kota tetangga

Harus diakui, Bandung yang pertama memiliki klub sepakbola wanita. Bahkan bisa dibilang merekalah yang pertama kali melahirkan sepakbola wanita di Indonesia. Barulah kemudian Buana Putri dan klub-klub lain di berbagai kota hadir menjadi pesaing.

Semua bermula dari surat pembaca Wiwi Hadhi Kusdarti berjudul “Kesebelasan Wanita Indonesia” yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat pada 16 Januari 1969.

“Redaksi jth,

Setelah membatja “PR” tgl 17 1968 tentang kemungkinan dibentuknja Kesebelasan Wanita di Indonesia, saja berpendapat, ada baiknja kalau mulai dari sekarang diadakan suatu pendaftaran chusus bagi wanita2 jang berhasrat untuk mengikuti latihan2 sepakbola. Saja kira, tidak adanja minat dari kaum wanita Indonesia untuk bermain sepakbola, hanja karena perasaan malu, sebab di Indonesia belum ada Kesebelasan Wanita seperti diluar negeri. Tapi saja jakin, bahwa wanita2 Indonesia pun tidak kalah dengan wanita2 dari negara2 lainnja dalam tjabang olahraga ini. Oleh sebab itu saja mengadjak kaum wanita Indonesia, terutama jg ada di Bandung ini jg berminat dalam lapangan sepakbola, untuk bersama2 membentuk kesebelasan dan berlatih, misalnja dibawah pimpinan Persib sendiri. Apalagi sekarang sudah banjak kesebelasan2 wanita dari luar negeri jang mengundang kita. Mudah2an adjakan ini mendapat sambutan dari kawan2 sesama wanita jang berminat untuk terdjun dalam tjabang olahraga ini.”

Berkat surat pembaca tersebut beliau kemudian mendapat panggilan dari pimpinan tim Putra Priangan — klub anggota Persib Bandung — yang bernama Mahdar. Tak lama berselang, Wiwi Hadhi Kusdarti yang akrab disapa Mace diajak rapat bersama pengurus Persib dan Putra Priangan.

Dari hasil rapat itu, tim sepak bola wanita bernama Putri Priangan lantas terbentuk pada 5 Februari 1969. Melalui proses perizinan dan seleksi yang melibatkan sekitar 30 perempuan, susunan tim Putri Priangan pun terisi. Di dalam formasi, Mace menempati posisi di sayap kiri dan mengenakan nomor punggung 10.

Jejak persaingan rivalitas dua kota

Sebagai representasi kekuatan sepakbola masing-masing kota, Buana Putri dan Putri Priangan saling bersaing menjadi yang terbaik. Keduanya bak musuh bebuyutan yang saling mengalahkan. Dikisahkan Papat Yunisal, legenda sepak bola putri nasional yang juga memperkuat Putri Priangan sejak 1979, dipastikan tidak akan ada kursi tersisa kala mereka berjumpa.

“Di Putri Priangan pada kompetisi-kompetisi Kartini Cup, Piala Pangdam biasa di Galanita, saingan beratnya Buana Putri. Kadang bergantian juara. Musuh bebuyutan, gitu lah. Kalau sudah bertemu di (stadion) Lebak Bulus itu, sampai tidak ada tempat duduk (penonton) tersisa. Selalu ramai penonton, kayak ada Viking dan Jakmania-nya (pendukung fanatik Persib dan Persija),” imbuh Papat Yunisal, mengutip historia.id.

Jejak persaingan kekuatan sepak bola putri Bandung dan Jakarta sudah tercatat semenjak awal kompetisi PSSI. Dalam Piala Kartini edisi pertama di Jakarta pada 23-27 Mei 1981 yang diikuti empat tim: Putri Priangan, Putri Pagilaran, Sasana Bakti, dan tuan rumah Buana Putri. Putri Priangan dan Buana Putri bertemu di final.

Dalam babak final, Buana Putri mengalahkan Putri Priangan, rival utamanya, 1-0 di Stadion Pluit, Jakarta, Rabu, 27 Mei 1981. Gol tunggal kemenangan Buana Putri dicetak Katherin pada menit ke-60 melalui tendangan jarak jauh.

Di gelaran berikutnya, Piala Kartini II tahun 1983, keduanya kembali berjumpa di final. Uniknya kali ini mereka dinobatkan sebagai juara bersama turnamen yang berlangsung 8-15 Mei 1983 di Yogyakarta.

Sebelum dinobatkan sebagai juara bersama keduanya bermain imbang 0-0 di waktu normal 2 x 35 menit. Begitu pun di masa tambahan 2 x 7,5 menit, skor tetap tidak berubah sehingga memaksa pemenang ditentukan melalui adu tendangan penalti. Sayangnya, skor terpaksa tertahan di angka 3-3 karena hari sudah maghrib, sementara lampu stadion tidak tersedia.

Dari semua catatan yang ada, bila dibandingkan pendahulunya –Buana Putri—Persija Putri belumlah apa-apa. Benar Persija Putri kini menjadi simbol kekuatan sepakbola wanita di ibu kota. Untuk itu banyak pertandingan yang harus dimenangi, banyak gelar yang harus didapatkan sebagai pembuktian.

 

foto dari historia.id

Share post :

Leave a Reply