Bisa Jadi, Sepakbola adalah Penyembuh

Nyatanya tidak pernah mudah bertahan di saat yang tidak menyenangkan, saat mati menjadi ancaman. Terlebih semua penuh ketidakpastian. Mungkin satu-satunya alasan yang menguatkan untuk bertahan hanyalah harapan.

Tidak ada yang menduga virus yang begitu berbahaya hadir tiba-tiba. Covid-19 yang entah berasal dari mana menghadirkan kematian sebagai ancamannya. Sekitar enam bulan dari kasus pertama, lebih dari 400 ribu nyawa dari sekitar tujuh juta yang terjangkiti, menjadi korban.

Lebih tidak terduga, penyakit yang lebih akrab disebut Corona akhirnya sampai juga ke Indonesia. Negara penyantap Nasi Kucing, negara yang rakyatnya membaca doa Qunut dalam sholatnya, nyatanya terserang juga. Bahkan Tolak Angin kebanggaan Indonesia tidak dapat menangkal penyakit dengan gejala tidak jauh dengan gejala flu biasa.

Semua mulai panik sejak kasus pertama di awal Maret lalu. Pemerintah yang yakin negaranya tidak akan terjangkiti, ikut panik. Kepanikan dan ketidaksiapan yang diiringi ketidakpastian kemudian. Langkah-langkah yang diambil seolah hanya spekulasi saja. Penutupan perbatasan banyak dianggap terlambat oleh para ahli. Hingga jumlah mereka yang terjangkiti terus meninggi.

Karantina wilayah yang menurut beberapa ahli dinilai sebagai solusi, berbalas Pembatasan Sosial Berskala Besar. Meski tampak serupa, namun keduanya adalah hal berbeda. PSBB mengatur tentang peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, hingga pembatasan kegiatan di tempat umum.

Sedangkan Karantina Wilayah merupakan pembatasan penduduk dalam satu wilayah termasuk pintu keluar masuk beserta isinya yang diduga terinfeksi penyakit atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah penyebaran penyakit.

Dalam Karantina Wilayah ada peran penting Pejabat Karantina Kesehatan juga kepolisian dalam penjagaan masyarakat agar tidak keluar masuk wilayah karantina. Selain itu ada juga tanggung jawab pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yang berada di wilayah karantina. Termasuk hewan ternak sekalipun.

Dalam artian pemerintah bukan hanya melarang masyarakatnya berkegiatan, tapi juga ambil peran menjamin kehidupannya selama karantina dilakukan. Sangat berbeda dengan yang terjadi sekarang. Setiap orang diimbau untuk di rumah saja tanpa kepastian.

Kini saat grafik penularan belum juga melandai, kebijakan tidak popular lain diambil. New Normal dianggap sudah seharusnya diterapkan sebagai fase berikutnya. Semua dipaksa berdamai dengan virus yang masih sangat mengancam. Bahkan saat vaksin yang dinanti-nanti belum jelas hadir kapan.

Lagi-lagi, mungkin satu-satunya alasan yang menguatkan untuk bertahan hanyalah harapan. Harapan untuk semua keadaan tidak menyenangkan ini segera berlalu. Harapan akan munculnya dunia baru. Dan untuk kita, suporter, tentu saja harapan sepakbola yang sempat ikut sementara mati akan segera kembali. Harapan yang bukan tidak mungkin bukan hanya menjadi penguat, tapi juga mungkin menjadi penyembuh.

Harapan yang memunculkan semangat saling menguatkan. Harapan yang mentranformasi semangat sepakbola menuju dunia lebih luas. Semangat yang berujung aksi nyata kemanusian sama-sama melawan virus yang mematikan.

Kini harapan itu sedikit terlihat. Kabarnya beberapa bulan lagi sepakbola akan Kembali. Mesti tidak akan sama tentunya. Tanpa penonton, dengan prosedur berbeda yang mungkin akan membuat sepakbola tidak akan sama. Nampaknya kita masih harus bersabar entah sampai kapan untuk yang sebenar-benarnya sepakbola.

Untuk sementara waktu, nikmati saja. Sembari memulihkan semuanya. Jangan sampai sepakbola yang semula dapat menjadi penyembuh, justru menjadi pusat penularan baru.

Tetapi bila saatnya tiba, kita akan kembali memenuhi tribun untuk sebuah perayaan. Untuk sebuah bukti bahwa kita telah mengalahkan sesuatu yang bahkan sangat mematikan.

Sampai jumpa, di saat itu. Saat semua telah berlalu, saat muncul dunia baru, saat sepakbola kembali sebenar-benarnya sepakbola.

 

Foto: Media Persija 

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
100 views

Leave a Reply