Betapa Mahalnya Memutar Liga Di Saat Pandemi

Beberapa waktu yang lalu induk sepakbola Indonesia, PSSI, mengeluarkan keputusan untuk melanjutkan kompetisi sepakbola Indonesia disertai protokol kesehatan yang wajib dijalankan jika Liga 1 & 2 nanti diputar kembali pada sepertiga akhir tahun 2020 ini. Protokol yang disiapkan PSSI tidak berbeda dengan protokol kesehatan yang sudah dijalankan oleh negara yang liga sepakbolanya sudah berjalan di tengah pandemi ini, Korea Selatan dan Jerman.

Karena mencontoh dari Korea Selatan dan Jerman, sudah pasti protokol yang dibuat PSSI sesuai standar WHO. Jadi akan baik-baik saja selama protokol tersebut dijalankan dengan benar.

Berikut kami rangkumkan 8 protokol kesehatan yang dibuat oleh PSSI untuk penyelenggaraan Liga 1 & 2 2020:

  1. Pemain, tim pelatih, official, dan perangkat pertandingan rapid test 1 minggu sekali selama liga berlangsung.
  2. Menggunakan masker di lingkungan latihan dan pengecekan suhu setiap hari.
  3. 3 hari sebelum bertanding, pemain, tim pelatih, official, dan perangkat pertandingan melakukan rapid test, 1 hari sebelum bertanding rapid test lagi.
  4. Hanya pemain, tim pelatih, official, dan perangkat pertandingan yang hasil tesnya negatif yang boleh tampil.
  5. Pembatasan jumlah orang yang ada di sekitar lokasi pertandingan, maksimal 254 orang.
  6. Di lokasi pertandingan akses masuk dan keluar harus berada di lokasi yang sama, wajib ukur suhu, pakai masker, dan menjaga jarak.
  7. Saat bertanding, pemain dilarang berjabat tangan, meludah, berbagi botol minum. Setelah bertanding, pemain dilarang mandi di ruang ganti dan makan bersama.
  8. Tidak ada wawancara langsung di stadion. Wawancara langsung diganti dengan wawancara virtual.

Dari 8 poin di atas, semua protokol kelihatannya dapat dilakukan semua. Yang jadi masalah adalah biaya untuk melakukan itu semua.

Dari hasil pencarian kami, biaya pelaksanaan rapid test di Jakarta sangat bervariasi, dari yang paling murah sekitar 200 ribu-an sampai yang lebih dari 1 juta sekali tes. Tentu saja yang 1 juta sekali tes dilengkapi dengan berbagai macam paket lainnya seperti rongent paru-paru dan konsultasi dengan dokter.

Mari kita berasumsi klub menggunakan rapid test dengan harga yang paling murah yaitu 200 ribu sekali tes. Kita gunakan Persija sebagai contoh kasusnya.

Persija musim ini diisi kurang lebih sekitar 40 orang pemain, tim pelatih, serta official, berarti hitungannya 200.000 x 40= 8.000.000 rupiah sekali tes untuk 1 tim. Menurut protokol kesehatan yang dibuat PSSI, klub harus rapid test setiap minggu sampai liga selesai. Kita asumsikan liga bergulir selama 5 bulan, jadi klub harus mengeluarkan kurang lebih 160.000.000 untuk tes mingguan sampai liga selesai.

Selain tes mingguan, klub juga harus rapid tes 3 hari dan 1 hari sebelum bertanding. Jadi seminggu bisa 3 kali rapid tes, tergantung jadwal bertanding. Kita asumsikan klub bertanding seminggu sekali, berarti 1 minggu klub bisa menghabiskan 24.000.000 untuk rapid tes. Dalam 1 musim sampai liga selesai, klub bisa menghabiskan hampir 500 juta untuk rapid tes.

Selanjutnya, biaya sewa tempat bertanding saat masa pandemi ini tidak bisa bergantung lagi pada tiket masuk penonton. Jadi untuk menyewa tempat bertanding klub bergantung pada uang sponsor, hak siar, atau kantong pribadi pemilik klub.

Stadion sepakbola di Jakarta yang bisa dibilang layak untuk menyelenggarakan Liga 1 hanya ada SUGBK dan stadion Madya, yang keduanya biaya sewanya tidak murah. Belum lagi penyewa harus menyertakan uang jaminan untuk menyewanya.

Kurang lebih 500 juta untuk rapid tes, ditambah biaya penyewaan tempat bertanding yang sudah tidak bisa bergantung pada tiket. Beban klub sudah berat di masa pandemi ini, ditambah lagi biaya untuk menjalankan protokol kesehatan yang dibuat federasi.

Selain biaya yang mahal, keputusan-keputusan terkait penyelenggaraan kembali kompetisi sepakbola di Indonesia yang dibuat federasi terkesan aneh.

Federasi memutuskan, jika kompetisi 2020  dilanjutkan, semua pertandingan akan dimainkan di pulau jawa untuk menekan biaya transportasi. Padahal pulau jawa merupakan pusat penyebaran covid-19 di Indonesia. Lebih dari setengah kasus covid-19 di Indonesia ada di pulau jawa.

Selain itu, federasi juga memutuskan kompetisi musim 2020 tanpa degradasi tetapi tetap ada promosi. Ini berarti di musim selanjutnya liga 1 akan dimainkan oleh 20 tim, yang kemungkinan akan dibagi ke dalam 2 wilayah. Sebuah kemunduran menurut kami, karena akan menurunkan tingkat kompetitif liga itu sendiri.

Karena liga musim selanjutnya akan dimainkan oleh 20 tim, mau tidak mau federasi harus menjalankan kongres. Karena menurut statuta, liga 1 dimainkan oleh 18 tim, sementara merubah statuta harus melalui kongres. Pembagian saham di perusahaan operator liga juga harus berubah, karena saat ini saham hanya dibagi ke 18 tim.

Efek dari keputusan federasi soal kelanjutan liga musim 2020 akan terasa ke mana-mana.

Sebenarnya federasi melalui operator liga berkomitmen untuk memberikan tambahan subsidi sebesar 800 juta rupiah jika liga kembali berputar. Tapi apa mungkin operator bisa memberikan subsidi itu tepat waktu? Yang sudah-sudah saja subsidi turunnya selalu telat, yang mebuat klub nombok dulu.

Kabar baiknya, keputusan federasi mengenai kelanjutan liga masih menunggu keputusan dari komisi eksekutif PSSI dan klub peserta liga itu sendiri. Semoga bisa ditemukan jalan keluar terbaik untuk kebaikan semua insan sepakbola Indonesia.

 

Foto: @persijajkt di Instagram

Share post :
13 views

Leave a Reply