Analisis Penampilan Persija di Piala Presiden 2017

Perjalanan Persija di turnamen Piala Presiden 2017 berakhir antiklimaks. Sempat meraih empat poin dari dua pertandingan awal, Macan Kemayoran harus angkat koper setelah dikalahkan Bhayangkara FC 0-1 di laga pamungkas. Ada banyak hal yang bisa dicermati dari permainan Persija di Piala Presiden tahun ini.

Komposisi Pemain

Persija masih diperkuat 17 pemain musim lalu. Secara presentase, Persija mempertahankan 68% skuatnya. Macan Kemayoran juga mendatangkan pemain-pemain baru menyongsong Liga 1 nanti. Mayoritas pemain yang didatangkan adalah pemain muda. Hal ini dilakukan guna menyiasati regulasi baru di Liga 1 nanti yang mengharuskan tiga pemain U-23 sebagai starter.

Dalam bursa transfer Persija cenderung selektif dalam memilih pemain. Sebelum kick-off Piala Presiden ada empat pemain yang telah menandatangani kontrak. Mereka adalah Rudi Widodo, Jefri Kurniawan, Sandi Sute, dan Ryuji Utomo. Pemain anyar lainnya masih berstatus seleksi, termasuk dua penyerang asing, Jhonatan Bernardo dan Christopher Arriagada (Christopher kemudian dicoret selepas turnamen). Khusus untuk pos juru gedor asing ini Persija sangat hati-hati dalam memilih pemain. Sejauh ini Persija “baru” menyeleksi tiga pemain. Satu nama lainnya adalah Carlos Eduardo yang langsung didepak setelah gagal bersinar di Trofeo Bhayangkara. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibanding musim lalu dimana Persija sampai menyeleksi 18 pemain asing untuk posisi striker saja.

Permainan

Pada Trofeo Bhayangkara, Coach Teco menampilkan formasi 4-3-3. Formasi ini kembali digunakan pada tiga pertandingan di Piala Presiden melawan PS TNI, Arema FC, dan Bhayangkara FC. Formasi ini pula yang nampaknya akan menjadi andalan Persija pada Liga 1 nanti. Ada empat pemain yang selalu menjadi starter di tiga pertandingan tersebut, yakni, Andritany, Pacheco, Rezaldi, dan Sandi Sute. Nama pertama selalu bermain full 90 menit.

Secara umum, 4-3-3 Persija tidak jauh berbeda dengan 4-3-3 pada umumnya. Selain kiper dan empat bek di belakang, lini tengah berisi satu gelandang bertahan (no. 6) dan dua gelandang tengah (no. 8). Di lini depan striker sebagai ujung tombak dibantu dua winger di kedua sisi.

Susunan Starting XI Persija di Piala Presiden

Dalam tiga pertandingan tersebut, Coach Teco selalu menurunkan penyerang murni di posisi sayap kiri di tiga pemain depan dalam formasi 4-3-3. Rudi Widodo ketika melawan PS TNI dan Bhayangkara FC serta Bambang Pamungkas ketika melawan Arema FC. Menarik memang karena Persija punya pemain yang secara natural biasa bermain di posisi tersebut, seperti Ramdani Lestaluhu, Abrizal Umanailo, dan Jefri Kurniawan. Ini bukan berarti sesuatu yang jelek. Apalagi mengingat Rudi berhasil mencetak gol melawan PS TNI ketika dimainkan dalam posisi tersebut. Pelatih Juventus, Massimiliano Allegri juga melakukan hal serupa dengan memainkan Mario Mandzukic, yang merupakan striker murni, di posisi sayap kiri. Hal ini dikenal dengan sebutan wide target man atau target man yang melebar. Perannya tak jauh berbeda dengan target man pada umumnya. Hanya saja dengan area permainan yang berada di sayap, peran untuk men-support rekannya lebih dibutuhkan. Ketika melawan PS TNI, Rudi Widodo mencatatkan 34x sentuhan, 100% akurasi umpan silang, dan akurasi operan sebesar 81%.

Sandi Sute juga termasuk pemain baru yang langsung mendapat kepercayaan menjadi starter di ketiga pertandingan tersebut. Meski berposisi sebagai gelandang bertahan, ia tak hanya bertugas sebagai perusak serangan lawan. Mantan pemain PBFC ini juga berperan menstabilkan lini tengah, bahkan beberapa kali menginisiasi serangan dengan umpan jauh ke lini depan.

Jika dibandingkan dengan penampilan Persija di Trofeo Bhayangkara, ada peningkatan yang cukup signifikan dari segi permainan. Peningkatan ini bisa dibilang menjadi suatu kewajiban, karena dengan persiapan yang lebih panjang, tentu penampilan di lapangan juga harus lebih optimal. Di Piala Presiden, permainan Persija terlihat lebih cair. Pengertian antar pemain juga sudah meningkat, terutama di pertandingan terakhir melawan Bhayangkara.

Sorotan mungkin ada di lini depan, dimana ada dua striker asing berstatus seleksi, yakni Jhonatan Bernardo dan Christopher Arriagada. Persija secara total mencetak hanya dua gol dari tiga pertandingan. Yang menjadi catatan, kedua gol tersebut berasal dari situasi open play, bukan bola mati. Jhonatan mencetak satu gol sementara Christopher membukukan satu assist. Kedua gol tersebut memiliki keistimewaan sendiri. Melawan PS TNI, Rudi Widodo mencetak gol di menit terakhir waktu tambahan. Sedangkan gol Jhonatan ketika melawan Arema berawal dari proses counterpressing yang baik. Setelah kehilangan bola, empat pemain Persija: Soon-Hak, Jhonatan, Bepe, dan Irfandy melakukan pressing kepada pemain Arema. Bola berhasil direbut oleh Soon-Hak dan Jhonatan, yang kemudian melakukan umpan satu-dua dengan Irfandy, untuk kemudian menggiring bola ke dalam kotak penalti Arema dan menceploskan tembakan yang gagal dihalau oleh Kurnia Meiga.

Pola serangan Persija cukup bervariasi, meski terkadang bola-bola panjang masih dominan. Sebenarnya bola-bola panjang tidak menjadi masalah asal dilakukan dengan timing dan eksekusi yang tepat. Yang menjadi masalah adalah seringkali struktur pemain tidak mendukung untuk melakukan support maupun sesegera mungkin melakukan counterpressing. Hal ini sangat sering terjadi. Dan menyebabkan progresi Persija menjadi sia-sia.

Permasalahan bukan terfokus pada bola panjang ataupun pendek, namun seringkali transisi yang lambat justru membunuh momentum yang didapat Persija. Ketika berhasil merebut bola dari lawan, lambatnya support dari pemain di sekitar membuat si pembawa bola mengalami satu diantara dua kemungkinan: bola berhasil direbut lawan, atau dilanggar. Dilanggar memang sepintas tetap memberi keuntungan lewat tendangan bebas, namun ada waktu terbuang yang dimanfaatkan lawan untuk menyusun kembali blok pertahanannya. Fase transisi memang krusial karena pada momen ini kedua tim tidak terstruktur sebaik fase bertahan/menyerang terstruktur.

Penampilan Persija cukup tertata ketika sabar membangun serangan dari bawah. Namun,isu lain yang patut diperhatikan adalah kurangnya inisiatif ketiga penyerang untuk mengeksploitasi ruang antar lini. Jhonathan lebih sering mengambil posisi lebih kedepan. Ini juga salah satu faktor mengapa Persija cenderung lebih sering langsung melakukan umpan lambung ke kotak penalti, ketimbang mencari peruntungan di “zona berbahaya” yaitu area depan kotak penalti lawan. Situasi ini bisa dibilang merupakan “bawaan” dari formasi 4-3-3 dimana formasi ini tersusun atas dua gelandang tengah (no. 8) sejajar dan tanpa gelandang serang (no. 10). Tipikal Jhonathan pun lebih kepada nomor sembilan murni, bukan false nine. Untuk solusinya, setidaknya ada dua pilihan. Pertama, salah satu winger masuk ke area tersebut, sementara daerah flanks bisa diisi oleh fullback yang melakukan overlap. Kedua, salah satu no. 8 bermain lebih ke depan untuk mengisi ruang tersebut, agar konektivitas bisa lebih terjaga.

Situasi ketika Persija melawan Bhayangkara. Tidak ada pemain Persija yang berinisiatif mengisi ruang antar lini (area abu-abu) kecuali Pandi Lestaluhu yang tengah dimarking. Pada situasi ini serangan Persija berakhir sia-sia.

Sebaliknya Persija beberapa kali nyaris kecolongan ketika lawan berhasil memanfaatkan ruang antar lini ini. Salah satunya adalah ketika melawan PS TNI. Dimas Drajad yang menerima umpan di ruang tersebut lalu memberi umpan terobosan kepada Ahmad Nofiandani, yang kemudian dilanggar oleh Rezaldi Hehanussa di kotak penalti. Kita patut bersyukur bahwa Andritany berhasil menggagalkan penalti tersebut.

Situasi ketika melawan PS TNI. Conteh mengumpan kepada Dimas Drajad yang berdiri bebas di ruang antarlini (abu-abu). Pemain Timnas U-19 itu kemudian memberikan umpan terobosan kepada Nofiandani. Situasi ini menghasilkan penalti untuk PS TNI.

Satu hal lagi adalah blok pressing Persija yang cukup kompak dan rapi. Terutama di laga terakhir melawan Bhayangkara. Meski kalah, Persija sebetulnya menguasai pertandingan. Pressing-pressing Persija, terutama di babak pertama kerap membuat bek-bek Bhayangkara melepas umpan panjang putus asa ke depan. Tak hanya pemain depan, dua gelandang no. 8 juga aktif naik untuk mengatasi situasi kalah jumlah di depan.

Kesimpulan

Penampilan Persija di Piala Presiden memang belum bisa dikatakan bagus untuk mengarungi Liga 1 nanti. Secara umum, Macan Kemayoran belum bisa mempertahankan konsistensi permainan sepanjang 90 menit. Secara tren memang ada peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan ketika Trofeo Bhayangkara bulan lalu. Banyak pembenahan yang bisa dilakukan setelah tersingkir di fase grup ini. Mempertajam skema dan variasi serangan salah satunya. Dalam 270 menit, Persija baru mencetak dua gol. Sebelum bicara gol, Persija menghasilkan 10 tembakan ke gawang dari 21 percobaan. Artinya, sebelum bicara penyerang haus gol atau playmaker kreatif, skema dan struktur permainan dalam fase menyerang-bertahan-transisi harus lebih dioptimalkan. Skema permainan menyangkut sebelas orang pemain, dimana penyerang maupun playmaker tersebut adalah satu diantaranya.

Tersingkir dini di Piala Presiden tidaklah terlalu buruk. Persija justru bisa merancang pra-musim sendiri, termasuk pertandingan persahabatan atau pemusatan latihan misalnya. Jika Persija masih melaju di Piala Presiden, jadwal pertandingan akan ditentukan oleh promotor. Persija harusnya bisa lebih leluasa dan fleksibel mengatur pra-musimnya. Tantangan mungkin adalah jadwal Liga 1 yang mungkin mengalami pengunduran. Tim pelatih harus menyusun kembali agenda pra-musim agar pemain tidak jenuh dengan lamanya pra-musim sekaligus siap menjalani Liga 1 mendatang.

 

 

kredit foto sampul: wearemania.net

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
243 views

Leave a Reply