Amarzukih: Taste of Betawi

Amarzukih mengajarkan kita tentang kebanggaan membela tanah kelahiran, berproses untuk tidak mudah menyerah dan selalu semangat memberikan yang terbaik untuk kota ini sebagai anak Jakarta lewat Persija

sepakbolajakarta.com Badannya kurus, urat-urat itu terlihat menonjol di punggung tangannya. Begitupun dengan gaya rambutnya yang gondrong sekaligus agak berantakan. Melihat senyum khasnya begitu lebar kepada teman-teman satu timnya saat sesi latihan, hingga terlihat giginya yang agak berjarak. Iya, jika tersebut ciri di atas. The Jak akan menyebut ia adalah Amarzukih. Produk asli betawi yang kini menjadi pionir lini tengah tim Persija Jakarta saat ini.

Nomor punggung berangka 21 menjadi identitasnya, menyebut nomor punggung 21 di Persija Jakarta, The Jakmania pasti akan secara pasti bilang bahwa angka itu adalah nomor punggung milik Amarzukih sekarang. Angka yang menjadi pilihan sesuai tanggal kelahiran Zukih yakni 21 Juli. Mempunyai ayah sebagai juragan tanah, membuat Amarzukih semakin terkenal akan kentalnya ciri khas sebagai orang Betawi di Persija Jakarta, walaupun juga ada nama Andritany Ardhiyasa yang lebih terkenal logat bicaranya yang cukup nyablak.

Datang pada pertengahan bulan Agustus tahun 2010, Ahmad Marzukih atau yang biasa di kenal dengan Amarzukih secara resmi bergabung bersama Persija Jakarta. Amarzukih di rekrut dari Persitara Jakarta Utara bersamaan dengan datangnya sebelas pemain baru dan pelatih anyar Persija Jakarta sewaktu itu, Rahmad Darmawan.

Namanya bersama sebelas pemain tersebut di proyeksikan oleh manajemen Persija Jakarta di bawah kepemimpinan Harianto Badjoeri saat itu untuk bisa berprestasi di musim kompetisi berikutnya. Sikap manajemen yang tidak puas dengan raihan pencapaian Persija yang hanya mampu selesai di peringkat lima besar kompetisi Liga Super Indonesia pada musim 2009/2010. Membuat manajemen berbenah dengan perombakan pemain dan pelatih dalam skuad Macan Kemayoran, yang pada musim berikutnya berhasil menghasilkan Persija dengan bertengger di posisi ketiga klasemen akhir Liga Super Indonesia.

Sebetulnya nama Amarzukih sudah menjadi target Persija Jakarta sejak tahun 2008, setelah ia mampu membawa Persitara promosi ke Liga Super Indonesia tahun itu. Hampir dua tahun, Amarzukih menjadi pantauan manajemen Persija Jakarta khususnya pantauan dari Bung Ferry yang pada saat itu menjabat sebagai asisten manajer Persija dan kini menjadi ketua umum The Jakmania. Amarzukih dipilih oleh manajemen atas berbagai pertimbangan, kemampuannya yang multi-fungsi dalam posisi bermain seperti bisa sebagai fullback kanan/kiri atau menjadi center miedfielder dan defensive miedfielder, usia yang terbilang masih muda dan loyalitas dirinya terhadap tim yang ia bela.

“Ahmad Marzukih, udah dua tahun gua incar ini anak. Tinggal di Kebagusan, belakang Mess Persija (sewaktu itu mess Persija berada di Ragunan) udah bukan alasan lagi untuk ngga ambil dia. Masih muda, sudah menunjukan kualitas dan loyalitas.” Dikutip dari catatan akun facebook pribadi Bung Ferry.

Atas dasar pertimbangan diatas, Amarzukih akhirnya menjadi bagian baru di tim Persija Jakarta. Awal bergabungnya Amarzukih di Persija juga lebih banyak dihabiskan di bangku cadangan. Jatah menit bermain yang sedikit diberikan oleh Rahmad Darmawan, membuat Juki harus betah menjadi pelapis di era kepelatihan RD. Tapi, selepas Rahmad Darmawan pindah ke Pelita Jaya musim 2012 dan posisi kepelatihan Persija pindah ke tangan Iwan Setiawan, Iwan Setiawan memberikan porsi menit bermain lebih banyak kepada Amarzukih.

Bahkan dalam suatu acara diskusi sepakbola yang diadakan di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Iwan Setiawan menjabarkan bahwa Amarzukih adalah pemain muda yang memiliki jam terbang minim di awal bergabungnya ia bersama Persija Jakarta. Sehingga, Iwan Setiawan memaksimalkan Amarzukih yang di masa kepelatihannya, Zukih lebih dipasang sebagai Box to Box Miedfielder atau gelandang pengangkut air.

Gaya Bermain yang Keras di Atas Lapangan.

Sikapnya yang pendiam dan kalem di luar lapangan, bukan berarti menjadikan hal itu demikian sama saat Amarzukih berada di atas lapangan. Amarzukih yang di Persija ditugaskan berposisi sebagai pemain tipe no.6 (Gelandang bertahan) mempunyai gaya bermain yang keras dan berani fight sekalipun lawan duelnya berpostur lebih besar darinya. Terakhir, Amarzukih juga terkena hukuman dari dari komisi disiplin ISC yakni dilarang bermain dalam beberapa pertandingan karena jegalan tendangan kungfu-nya yang mengarah ke dada pemain Persib yakni Febri Haryadi, sewaktu Persija Jakarta berhadapan dengan Persib Bandung dalam turnamen Torabika Soccer Championship 2016.

Walaupun gaya bermainnya yang dinilai cukup keras terhadap pemain lawan hingga menuai kritikan pedas bahkan cibiran. Amarzukih tetap terkesan santai dan tidak mau ambil pusing, Amarzukih tetap mendapat pujian terlebih dari suporter The Jakmania karena gaya bermainnya yang spartan alias tidak kenal lelah dalam membantu mengamankan lini pertahanan Persija Jakarta.

Sosok pemain Inspirasi untuk pemuda Jakarta.

Nama Amarzukih juga menjadi idola panutan untuk The Jakmania. The Jak, menganggap Amarzukih adalah pemain asli Betawi yang sangat loyal terhadap kota Jakarta sebagai tanah kelahiran dan tempat ia dibesarkan bersama Andritany saat ini. Amarzukih  selalu menanamkan pesan cintanya kepada Persija, bagi dirinya tersendiri. Persija bukan sekedar klub tempat ia bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Tapi, Amarzukih menganggap Persija Jakarta lebih dari itu. Yakni sebagai kebanggaan dalam hidupnya karena bisa membela tim tempat dimana ia lahir, berkembang dan besar seperti sekarang. Begitulah Amarzukih, mencintai Persija dengan semangat ke Betawian-nya.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
243 views

Leave a Reply