ke-bijak-an

Untuk mereka yg dipaksa menyerah atau bahkan pelan-pelan coba disingkirkan.

Menjelang bergulirnya Liga 1 dan Liga 2 PSSI selaku penguasa tertinggi sepakbola Indonesia mengeluarkan wacana kebijakan yang tidak biasa. Kebijakan yang mungkin saja kurang bijak. Dan bahkan mungkin hanya ada di Indonesia. Wacana tentang pembatasan usia tentu saja bukan kebijakan yang biasa. Bagimana mungkin bisa kebijakan ini diterapkan di liga yang bertitel profesional. Mana mungkin profesionalitas diukur semata dengan usia.

Yang paling dikagetkan dengan wacana ini tentu saja pemain itu sendiri. Setiap klub di Liga 1 hanya diperbolehkan memiliki dua pemain dengan usia di atas 35 tahun. Sedangkan di Liga 2 hanya boleh diperkuat lima pemain di atas usia 25 tahun. Klub pun tidak kalah direpotkan oleh wacana ini. Diakui atau tidak, walau ada klub yg mulai mempercayai pemain muda banyak juga klub yg masih bergantung dengan pemain senior (kata yg lebih halus dari pemain tua).

Dengan terbatasnya ruang untuk pemain senior, lantas dimana tempat untuk mereka? Di Liga 1 yg diikuti 18 klub artinya hanya ada 36 slot pemain senior. Di Liga 2 yg diikuti 60 klub bahkan mereka masih harus bersaing dengan pemain usia diatas 25 tahun yang hanya diberi jatah lima pemain.

Sebenarnya ada apakah ini? Bagaimana mungkin profesionalitas dinilai dengan usia. Tentu kita masih ingat baru-baru ini rekor pencetak goal tertua dipecahkan Kazuyoshi Miura yang berusia lebih dari 50 tahun. Gol ini terjadi di pertandingan Yokohama FC vs.Thespakusatsu Gunma di lanjutan J2 Laegue (kasta kedua liga Jepang). Gol Miura menjadi satu-satunya goal dipertandingan itu dan menjadi goal penentu kemenangan Yokohama FC.

Atau contoh lain penampilan Cristian Gonzales di Piala Presiden 2017. El Loco (sapaan akrab Gonzales) berhasil menyarangkan 11 goal dan berhasil menjadi Top Skor dengan usia 40 tahun di turnamen Pramusim tersebut. Ini hanya sebagian kecil contoh usia tidak dapat dijadikan batasan pemain profesional yg memang menjaga kondisi fisiknya dengan profesional. Jangan paksa mereka menyerah selama mereka masih bisa melakukannya.

Atau mungkin karena mereka dianggap “Generasi yang Gagal” hingga pelan-pelan coba disingkirkan? Bukankah mayoritas kalian yang duduk nyaman di PSSI juga masih satu generasi dengan mereka? Tidakkah kalian bisa dianggap generasi yang gagal juga?

Mereka bukan pengabdi yang tua ingin pensiun lalu mati. Selama mereka mampu mereka pasti ingin berlari. Dan ingat, banyak dari mereka yang pernah menggunakan seragam merah-putih dengan lambang Garuda di dada. Walau mereka “Generasi yang Gagal” mereka pernah membuat kami bangga. Mereka pernah berjuang demi kemormatan Bangsa. Tolong hargai mereka. Mereka idola kami, biarkan mereka terus berlari. Sampai pada akhirnya muncul generasi muda yang siap berlari lebih kencang untuk menggantikan mereka.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
26 views

1 Response

  1. Muhamad Aufi Rahman

    Mungkin tulisan ini bukan cuma hanya sebuah opini yang keluar dari isi kepala seseorang saja, tetapi juga mewakilkan opini-opini dan juga keluh kesah para pemain sepakbola yang sudah mulai ber-umur dan juga para penikmat sepakbola yang daya pandangnya terbatasi karna tidak akan bisa melihat pemain yang di idolakannya sudah tidak bisa bermain, berlari, menendang, menyundul, bahkan merasakan emosi dan yuporia yang ada ketika sedang berada di dalam sebuah lapangan sepak bola.

    Dan bahman regulasi tersebut pun akan menjadi ancaman pasung kaki para pemain sepak bola yang usia nya sudah tidak muda lagi dan yang akan menginjak usia 35th, seakan-akan para pemain sepak bola di paksa untuk pensiun dari dunia yang mereka kerja kan dan mereka cintai.

    Maaf kalau ada kata yang salah dari komen saya yang panjang ini, karna saya hanya seorang supporter sepak bola yang bodoh dan tidak berpendidikan seperti mereka yang dapat membuat regulasi aneh ( Melanggar peraturan FIFA ) sambil duduk enak di atas kursi empuk.

Leave a Reply