2018 Di Sudut Ingatan

Oleh Ilham Hermansyah (@glembosisme),

Saya adalah tipikal orang yang tidak begitu peduli-peduli amat  dengan kejadian di masa lalu. Tapi tahun 2018 membuktikan, bahwa ia bukan ‘kaleng-kaleng’. Sebab, setelah tujuh belas tahun lamanya, akhirnya Persija kembali kepada jalur yang semestinya. Boleh jadi kita sepakat bahwa memori manis ini punya tempat tersendiri di ingatan kita. Membekas, bahkan menyatu dalam talamus. Saya pikir, pendukung Persija yang lainnya pun akan berpikir demikian. Sebab, ingatan adalah salah satu senjata yang ampuh untuk merawat harapan.

Kira-kira setelah melakoni kompetisi yang cukup melelahkan pada 2017, tim besutan Stefano Cugurra mulai memupuk harapan untuk bersiap kembali memulai musim yang akan datang. Di tengah persiapan dalam membentuk skuad tim, beberapa nama seperti Ambrizal Umanailo, Amarzukih, hingga Ryuji Utomo justru santer diperbincangkan akan hengkang. Tak bergeming, Persija kemudian mendatangkan nama Marko Simic yang tak kita ketahui sebelumnya, dan belakangan kita akui akan kehebatannya. Selanjutya, sederet nama baru pun melengkapi daftar susunan pemain musim 2018 sebagai tanda bahwa kita siap untuk mengarungi musim yang akan datang.

Kita sama-sama paham bahwa Liga 1 adalah kompetisi bergengsi di negeri ini. Maka dari itu, jika diibaratkann dengan kendaraan, untuk menciptakan sirkulasi mesin yang baik tentu kita harus melakukan hal yang membuat seluruh organ menjadi siap. Singkatnya, pemanasan. Melakukan pemanasan berarti mempersiapkan tim. Dan, dengan demikian, Persija melakukannya dengan ikut serta dalam turnamen pra-musim.

Boots Sport Fix Super Cup 2018 dan Piala Presiden 2018 menjadi ajang unjuk gigi bagi Persija sebelum memulai kompetisi Liga 1 2018. Selain menjadi sarana untuk memperkenalkan pemain baru, turnamen pra-musim juga bertujuan untuk menciptakan chemistry yang baik antar setiap pemain di dalam tim. Tak disangka-sangka, dari kedua turnamen tersebut, Persija berhasil menoreh hasil yang maksimal dengan keluar menjadi juara pada keduanya. Sebuah permulaan yang paripurna. Setidaknya, berangkat dari dua turnamen pra-musim yang telah diselesaikan dengan ciamik, kita –Persija serta pendukungnya, punya keyakinan besar bahwa kita cukup memiliki bekal untuk menatap Liga 1 dengan penuh harapan.

Hasil imbang pada pertandingan pembuka kontra Bhayangkara FC menjadi langkah awal Persija dalam memulai liga. Setelah menuai juara di turnamen pra-musim, kita tak cukup apik dalam memulai laga pertama di liga. Tak apa, pertandingan awal tidak selalu menjadi tolak ukur bagaimana suatu tim akan melaju dalam satu musim kedepan. Performa Persija tidak begitu menimbulkan decak kagum pada awal-awal kompetisi, justru cenderung fluktuatif dengan ditandai kemenangan, kekalahan, dan hasil imbang yang seakan bergantian sesuai porsinya. Pada saat yang bersamaan, Persija juga melakoni kompetisi resmi dikancah Asia, yakni AFC Cup 2018. Dengan begitu, Persija harus membagi konsentrasinya kepada dua kompetisi. Saya pikir, selain butuh strategi yang mantap, Persija juga perlu kesiapan mental yang sekeras baja. Tapi, Persija cukup berhasil membuktikan itu.

Di tangga klasemen Liga 1, Persija belum terlalu memberikan tanda bahwa mereka adalah tim yang patut diperhitungkan. Kendati sebelumnya mereka telah membuktikannya pada turnamen pra-musim. Bahkan pada waktu itu, tim asuhan Teco ini sempat terseok-seok dan merasakan bagaimana terjebak dalam masa-masa penuh kesulitan di klasemen papan bawah. Namun, di kancah Asia, Macan Kemayoran cukup membuktikan tajam taringnya dengan berhasil menembus empat besar AFC Cup 2018 zona ASEAN, sebelum akhirnya dikalahkan oleh wakil dari Singapura, Home United.

Selain itu, Persija juga pernah mendapatkan perlakuan yang kurang adil dari si pemimpin jalannya pertandingan, seperti halnya yang terjadi saat mereka bertandang ke Lamongan. Gol kontroversial dari striker Persela Lamongan menggunakan tangan tidak dianulir oleh wasit! Sekali lagi saya katakan, selain butuh strategi yang mantap, Persija juga perlu kesiapan mental yang sekeras baja. Dan, Persija cukup berhasil membuktikan itu meski keculasan kerap menghampiri dan pertandingan kadung dijalani.

Tiba pada putaran kedua, dimana performa Persija mulai menunjukkan bahwa mereka adalah kesebelasan yang patut diperhitungkan. Hadir pula nama-nama baru yang direkrut pada pertengahan musim. Beberapa pertandingan telah dilakoni, dengan torehan gol yang tidak begitu banyak, tapi perlahan yakin bahwa jika kesolidan tim terus dijaga, maka untuk mencapai tangga klasemen atas bukan suatu hal yang sulit.

Beberapa kemenangan telah diraih. Klasemen atas pun perlahan bukan hanya angan-angan. Narasi juara pun menjadi kerap didengungkan. Sampai pada akhirnya kita tiba di titik dimana tiap pejuang yang hendak menaklukkan kerasnya medan pertempuran pasti merasakannya, yakni tantangan. Muncul opini publik yang berkembang bahwa kemenangan yang diraih Persija selama ini adalah berkat campur tangan mafia. Butuh mental baja untuk melewati tantangan seperti ini. Tentu tidak semua tim dapat menerima penghinaan yang begitu menyakitkan dengan sikap yang elegan. Persija menjawab itu dengan terus menciptakan kemenangan, tentunya dengan strategi yang apik.

Memberi cap bahwa kemenangan suatu tim atas campur tangan mafia jelas penghinaan yang mengganggu konsentrasi tim. Jika kita meresponnya dengan marah-marah, justru para pelempar hinaan tersebut akan merasakan kepuasan tersendiri. Maka dari itu, Persija menjawabnya dengan cara yang elegan: terus membuat kemenangan dengan gaya permainan yang tidak mencerminkan bahwa mereka adalah tim yang terindikasi terlibat campur tangan mafia.

Posisi di klasemen menjadi semakin panas tatkala posisi Persija terus dibayang-bayangi oleh PSM Makassar yang hanya terpaut beberapa poin. Proses pengejaran poin pun menjadi momen yang krusial.

Persija pernah merasakan bagaimana sebuah pertandingan sepakbola menjadi satu hal yang lebih sentimentil. Tepatnya pada pertandingan melawan Sriwijaya FC di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang. Pertandingan tersebut menuntut Persija untuk meraih poin penuh. Namun, perlawanan skuad Sriwijaya tak bisa diremehkan. Fenomena saling berbalas gol pun terjadi. Tapi tetap, satu hal yang diyakini oleh skuad Macan Kemayoran adalah bagaimana caranya meraih poin penuh untuk tetap bisa mengamankan klasemen puncak. Sampai di menit-menit akhir yang paling krusial keadaan masih imbang. Para pemain, jajaran tim, dan suporter harap-harap cemas. Dengan kata lain, kami berada di posisi penuh kegilaan, dimana detak jantung bekerja lebih cepat daripada biasanya. Namun, berapa detik sebelum pertandingan berakhir, sosok pahlawan bernama Maman Abdurrahman menuntaskan kegilaan itu semua dengan mencetak gol. Semua bersorak, stadion bergemuruh. Kita merasakan apa makna dari menangis dan tertawa dalam waktu bersamaan. Saya jadi belajar, satu hal yang pasti dari sepakbola: semua belum benar-benar selesai ketika peluit akhir belum disemprit.

Pasca pertandingan tersebut, narasi-narasi tentang mafia dan juara menjadi dua hal yang sering diperbincangkan di ruang publik maupun jagat maya. Bersamaan dengan itu, para pendukung Persija lebih sering merapal doa dari biasanya, detak jantung bekerja lebih cepat dari biasanya, dan nyanyian-nyanyian dengan nafas juara jadi lebih sering terdengar di tribun pada saat pertandingan berikutnya yang hanya menyisakan beberapa lawatan.

Siapa saja yang berada di kota Jakarta pasti akan ikut merasakan bagaimana positive vibes yang tercipta. Bagaimana gelombang-gelombang juara mengiringi keseharian warga Jakarta. Mulai muncul spanduk-spanduk dan tagar #KotaIniMauJuara atau #PersijaMenujuJuara di mana-mana. Dengan begitu, kita semua seperti terhubung dalam satu doa: Kota Ini Mau Juara.

Pertandingan yang menjadi penentuan hampir tiba. Posisi Persija masih terus berada dibawah bayang-bayang PSM Makassar. Bahkan hanya terpaut satu poin. Sampai tiba pada waktunya, kita bisa merasakan bagaimana atmosfer sangat beda dari biasanya. Untuk siapa saja yang terlibat di dalamnya, sudah pasti ada gairah besar di sana. Sekali lagi, bisa dipastikan bahwa detak jantung bekerja lebih cepat dari biasanya. Nyanyian “ini saatnya, menembus tradisi. Juara lagi, yang kedua kali..” mulai dinyanyikan dengan penuh semangat dan keyakinan.

Peluit ditiup, pertandingan dimulai. Persija terlihat mendominasi pertandingan. Tapi meskipun begitu, kesan dramatis masih terus menghantui disepanjang jalannya pertandingan. Pasalnya, PSM Makassar sedang berlaga diwaktu yang bersamaan. Apabila Persija menuai hasil yang minor, maka sudah dipastikan PSM Makassar yang berangkat angkat piala. Namun, Marko Simic menyudahi semua kecemasan itu. Lewat dua gol nya, ia seakan memastikan bahwa musim ini adalah milik kita.

Peluit akhir ditiup pertanda pertandingan selesai. Stadion bergemuruh. Persija Juara. Tangis pecah di mana-mana. Senyuman merebak kemana-mana bak virus. Semua berbahagia. Sekali lagi: Persija Juara.

Tetesan keringat para pemain, pelatih, serta jajaran ofisial terbayar lunas. Kerinduan Jakmania atas gelar juara, terjawab sudah. Doa-doa yang selama ini dipanjatkan, terkabulkan. Hari itu, 9 Desember 2018, Jakarta pesta pora. Persija keluar sebagai juara, sekaligus memboyong 3 trofi dalam satu tahun. Sebuah capaian yang hanya bisa didapatkan oleh tim yang mempunyai strategi yang mantap serta mental yang sekeras baja. Setelah sekian lama, akhirnya sejarah kembali mencatat torehan manis Persija di tahun 2018. Dan jika tidak berlebihan, itu akan dikenang selamanya.

Perjalanan Persija di tahun 2018 membuat saya berpikir ulang mengenai sepakbola. Bahwa sepakbola tidak bisa ditafsirkan hanya sebatas permainan sebelas melawan sebelas, bukan cuma sekadar pertaruhan 2×45 menit. Ia lebih dari itu. Sepakbola sudah seperti bagian dari denyut dan sendi kehidupan itu sendiri. Indah nan rumit. Dari sana, semua alegori kehidupan tercipta. Dan, beruntung bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya. Aamiin.

 

Foto: Persija Jakarta di Instagram

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
109 views

Leave a Reply